
Miris, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi persepakbolaan kita saat ini. Sudah bertahun-tahun persepakbolaan kita minim prestasi. Jangankan prestasi, yang ada malah rusuh dan anarkis pada setiap pertandingannya. Terakhir, kita mendengar berita tentang terbunuhnya 2 orang supporter LA Mania, pendukung Persela Lamongan karena bentrok dengan Bonek, pendukung Persebaya. Lalu, apa penyebab dari carut marutnya dunia persepakbolaan kita saat ini?
Jika kita telusuri lebih jauh, masalahnya memang sangat kompleks. Mulai dari masalah anarkisme supporter, minimnya infrastruktur, kurangnya pembinaan usia dini sampai dengan arogansi PSSI, selaku induk persepakbolaan di negara kita. Arogansi PSSI? Ya, PSSI memang arogan dan inilah yang menjadi pangkal masalahnya. Di saat ada pihak yang ingin memajukan persepakbolaan kita dengan membuat kompetisi baru, sebutlah LPI (Liga Primer Indonesia), PSSI justru melarangnya, bahkan mengancam pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Termasuk melarang pemain-pemain yang berlaga di LPI seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey, Andik Vermansyah, dan lain-lain untuk bergabung dengan timnas. Bukankah ini namanya sebuah diskriminasi? Seharusnya PSSI mengijinkan kompetisi tersebut dan membiarkan LPI dan ISL (kompetisi binaan PSSI) "bersaing" secara sehat. Toh, kedua-duanya bertujuan untuk memajukan persepakbolaan di tanah air agar lebih baik dan profesional.
Salah satu orang yang harus bertanggung jawab dalam hal ini adalah Nurdin Halid selaku Ketua Umum PSSI. Hampir selama 8 tahun era kepemimpinannya, Indonesia belum pernah meraih gelar juara satu pun. Paling maksimal hanya meraih runner-up di Piala AFF kemarin, itupun lebih karena dukungan rakyat Indonesia dan polesan tangan dingin seorang Alfred Riedl. Seharusnya waktu 8 tahun itu sudah cukup untuk menjadikan negara kita sebagai kiblat sepak bola di ASEAN bahkan menjadi "Macan Asia". Hal ini berarti Nurdin Halid dan PSSI-nya tidak becus dalam mengelola dunia kulit bundar di negeri ini.
Sepertinya Nurdin Halid kurang introspeksi diri. Bayangkan, organisasi olahraga tertua ini pernah dipimpinnya di balik jeruji besi selama 2 tahun. Apa kata dunia? Hal-hal seperti politisasi timnas, skandal korupsi dan kasus-kasus lain tak jua membuatnya mundur karena yang menginginkannya mundur hanya "segelintir" orang saja, katanya. Seharusnya dia belajar dari sikap Alm. Presiden Soeharto. Pak Harto saja yang pernah membuat negara kita disegani oleh dunia mau mengundurkan diri, masa' Nurdin yang belum pernah mengukir prestasi tidak mau turun kursi. Alasannya beragam, merusak tatanan demokrasi lah, tidak sesuai dengan statuta FIFA lah, dan lain-lain. Atau jangan-jangan baginya PSSI adalah ladang "empuk" untuk korupsi?
Menjelang masa jabatannya berakhir, Nurdin mulai menggalang dukungan lewat kongres PSSI dan berambisi untuk mencalonkan diri kembali sebagai ketua umum PSSI untuk ketigakalinya secara beruntun. Arogansi PSSI pun terlihat jelas dengan memecat beberapa klub anggota PSSI seperti PSM, Persema, Persibo, dan lain-lain lewat kongres PSSI tersebut. Dan sepertinya ambisi Nurdin untuk terpilih kembali berpeluang besar bisa terwujud dalam Munas PSSI di Bintan, Maret nanti. Karena banyak pengurus dan anggota PSSI yang cukup loyal dengannya dikarenakan ada "uang saku" yang didapat oleh mereka. Namun demikian, kita semua berharap bahwa Nurdin tidak akan terpilih lagi dan orang yang terpilih sebagai ketua umum PSSI nantinya adalah sosok yang tepat dalam rangka membenahi persepakbolaan di negeri ini. Maju terus sepak bola Indonesia !!!